Keputihan Karena Jamur [ATMA]

Kalau postingan sebelumnya adalah Keputihan yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, maka kali ini adalah keputihan yang etiologinya berbeda yaitu oleh Jamur. Keputihan merupakan gejala yang dialami oleh hampir semua wanita dan yang berperan terhadap keputihan yaitu serviks (leher rahim) dan vagina. Keduanya mengandung kelenjar yang dapat memproduksi mukus (cairan) yang keluar sebagai keputihan.

Keputihan seringkali dianggap normal apabila ciri-cirinya adalah keputihan yang keluar tidak berwarna (bening), tidak berbau, dan tidak disertai gejala-gejala lain seperti gatal, nyeri. Keputihan dapat mengalami gangguan dan penyebabnya beragam dan seringkali dapat diketahui melalui gejala keputihan yang muncul.

Keputihan Karena Jamur
Jamur apabila dalam jumlah sedikit hal ini merupakan organisme normal ada dalam vagina. Tetapi apabila jumlahnya meningkat, maka akan menimbulkan gejala keputihan. Salah satu jenis jamur yang sering menjadi biang keputihan adalah Candida albicans. Keputihan karena jamur ditandai dengan keluarnya cairan berbentuk keju lunak berwarna putih (white, cottage cheese like discharge), rasa gatal yang hebat, dan seringkali menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual.

Apa itu Candida albicans ?
Candida albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya untuk tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan berkembang menjadi blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu. Perbedaan bentuk ini tergantung pada faktor eksternal yang mempengaruhinya. Sel ragi (blastospora) berbentuk bulat, lonjong atau bulat lonjong dengan ukuran 2-5 μ x 3-6 μ hingga 2-5,5 μ x 5-28 μ .

Candida albicans memperbanyak diri dengan membentuk tunas yang akan terus memanjang membentuk hifa semu. Hifa semu terbentuk dengan banyak kelompok blastospora berbentuk bulat atau lonjong di sekitar septum. Pada beberapa strain, blastospora berukuran besar, berbentuk bulat atau seperti botol, dalam jumlah sedikit. Sel ini dapat berkembang menjadi klamidospora yang berdinding tebal dan bergaris tengah sekitar 8-12 μ. Morfologi koloni Candida albicans pada medium padat agar Sabouraud Dekstrosa, umumnya berbentuk bulat dengan permukaan sedikit cembung, halus, licin dan kadang-kadang sedikit berlipat-lipat terutama pada koloni yang telah tua. Umur biakan mempengaruhi besar kecil koloni. Warna koloni putih kekuningan dan berbau asam seperti aroma tape. Dalam medium cair seperti glucose yeast, extract pepton Candida albicans tumbuh di dasar tabung.

Faktor Predisposisi
Pada kehamilan, terjadi perubahan hormonal. Meningkatnya produksi estrogen menyebabkan pH vagina menjadi lebih asam dan sangat baik untuk pertumbuhan Candida albicans. Pada umur tertentu, yaitu bayi dan orang tua, orang mempunyai kerentanan terhadap infeksi. Keadaan umum yang buruk antara lain prematuritas, gangguan gizi, dan penyakit menahun. Penyakit tertentu yang diderita, seperti diabetes melitus, leukemia, dan keganasan, dapat meningkatkan kerentanan. Di samping itu, kerentanan juga dipengaruhi oleh penggunaan obat-obatan, antibiotika, oral kontrasepsi, kortikosteroid, dan sitostatika, serta iritasi setempat pada tubuh, antara lain kegemukan, urin, air, dan lain-lain.

Patogenesis
Pada fase patogenesis, terjadi perjalanan penyakit dalam tubuh manusia sehingga muncul berbagai gejala klinis antara lain sebagai berikut :

Sebagian penderita asimtomatis atau mempunyai keluhan yang sangat ringan disertai perasaan gatal, akan menjadi lebih hebat dan seringkali akan mengeluh perasaan panas dan nyeri sewaktu koitus. Fluor albus berwarna keputih-putihan seperti susu pecah dan pada pemeriksaan didapatkan vulva edema, hiperemia, dan erosi. Vagina hiperemia disertai discharge keputihan tebal yang bila diangkat mukosa di bawahnya mengalami erosi, kadang-kadang discharge sedikit, encer, atau seperti normal.

Rasa terbakar pada vagina atau vulva tidak selalu merupakan faktor pembeda untuk vaginitis akibat jamur dan vaginosis akibat bakteri. PH vagina pada infeksi jamur lebih rendah daripada vaginitis tipe lain dan biasanya sekitar 3.8-4.2, tetapi yang paling sering di bawah 4.5. Pengecatan gram untuk menunjukkan jamur adalah metode diagnosis yang tepat seperti kulturnya tetapi ini hanya terjadi pada pasien simtomatik karena adanya latar belakang positif pada wanita tanpa problem jamur. Pemeriksaan apusan dapat akurat apabila baik hifa dan spora terlihat tetapi dengan hasil negatif.

UPAYA PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
Pengobatan penyakit ini menggunakan antimikotik topikal seperti nistatin selama 14 hari, mikonasol selama 7 hari, dan klotrimasol selama 7 hari, serta antimikotik sistemik seperti ketokonazol selama 10-15 hari. Pengobatan suportif dapat dilakukan dengan menghilangkan faktor-faktor prediposisi. Perawatan yang tepat mapu menyembuhkan 90% dari infeksi vagina dalam dua minggu atau kurang (biasanya hanya dalam beberapa hari), tergantung pada jenis peradangannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s